Kunjungi Channel YouTube kami di "Guru Itung"

Halaman

Tuesday, April 20, 2021

Sembilan Bulan dalam Kandungan PGP (Minggu 1): Teman Baru, Ide Baru

Oleh: Jamaluddin Tahuddin
Sumber: twb.nz/gurupenggerakk

Program Pendidikan Guru Penggerak ini memberikan kesempatan bagi saya untuk bertemu dengan fasilitator, pendamping, kepala sekolah, dan teman-teman calon guru penggerak hebat yang berasal dari sekolah lain di wilayah kota Makassar. Di antaranya ada yang sudah dikenal, tetapi ada juga yang baru dikenal.

Melalui kegiatan ini, saya mendapatkan berbagai informasi yang baru dari fasilitator, pendamping, kepala sekolah, dan teman-teman calon guru penggerak. Karena kegiatan ini tidak hanya melibatkan fasilitator, pendamping, dan calon guru penggerak, melainkan juga melibatkan para kepala sekolah yang gurunya menjadi peserta kegiatan ini. Para peserta saling berbagi informasi, fasilitator dan pendamping menyampaikan informasi terkait program Pendidikan Guru Penggerak, kepala sekolah berbagi informasi terkait kebijakan kepala sekolah yang bisa menunjang pelaksanaan kegiatan PGP, sementara calon guru penggerak berbagi informasi mengenai pelaksanaan pembelajaran di kelas masing-masing.

Foto bersama PP dan CGP pada kegiatan Lokakarya 0 Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 2 di Hotel Grand Asia Makassar, Sabtu (10/04). (jt)

Awalnya agak sedikit kewalahan dalam mengatur waktu antara kegiatan lain dengan kegiatan PGP. Apalagi kegiatan ini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Secara praktis, kegiatan PGP tidak memungkinkan dilakukan pada malam hari karena ada shalat tarawih. Sementara pada siang hari juga bertabrakan dengan kegiatan pembelajaran di sekolah dan kegiatan di rumah lainnya. Sehingga saya hanya punya waktu luang untuk buka LMS nanti malam hari, itupun nanti habis shalat tarawih. Akibatnya mengantuk dan jaringan internet pun kadang tidak bersahabat. Jadi, saya membuka LMS setelah sahur atau dilanjutkan setelah shalat subuh.

Foto bersama PP, kepala sekolah, dan CGP pada kegiatan Lokakarya 0 Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 2 di Hotel Grand Asia Makassar, Sabtu (10/4). (jt)

Saya merasa senang selama mengikuti kegiatan Program Guru Penggerak, mulai dari Lokakarya 0, pembukaan, pretest, LMS, menulis refleksi kritis, dan vicon. Karena semuanya dilakukan secara bebas tanpa merasa tertekan. Sekalipun awalnya sempat ada kalimat ancaman berupa sanksi finansial dan sanksi administrasi bagi peserta yang mengundurkan diri dari PGP. Akan tetapi, kalimat ini justru menjadi motivasi bagi saya untuk semakin bersungguh-sungguh mengikuti PGP.

Saat lagi kurang sehat pun, pendamping tetap memberikan motivasi dan perhatian dengan menyarankan untuk beristirahat tanpa harus memikirkan tagihan dulu apalagi merasa terbebani. Beliau juga menyarankan agar saya menjaga kondisi kesehatan sambil mengingatkan bahwa perjalanan PGP ini masih panjang.

Forum Diskusi Refleksi Kritis tentang Pemikiran KHD pada kegiatan Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 2 di Ruang Diskusi Virtual Google, Jumat (16/4). (jt)

Konsep pemikiran KHD membuka cakrawala berpikir bahwa ternyata selama ini saya baru melaksanakan sebagian kecil saja dari konsep pemikiran KHD. Selama ini saya baru menerapkan konsep tiga dinding dari KHD, dimana KHD menyarankan ruang kelas itu hanya dibangun 3 sisi dinding saja. Dengan ada satu dinding yang terbuka, maka seolah hendak menegaskan tidak ada batas atau jarak antara di dalam kelas dengan realita di luar. Dalam penerapannya di kelas, biasanya saya lakukan dengan memberikan tugas proyek yang siswa kerjakan di luar kelas seperti mengukur tinggi menara masjid atau tinggi pohon dengan menggunakan konsep kesebangunan. Pembelajaran seperti ini biasanya saya lakukan dengan menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Selain itu, berbagai model dan pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran sudah mengadopsi beberapa konsep pemikiran KHD. Di antaranya pendekatan saintifik yang dilakukan dengan menggunakan konsep menuntun yang digagas oleh KHD, atau model pembelajaran kooperatif yang menggunakan konsep kolaborasi atau gotong royong dari pemikiran KHD.

CGP mempresentasikan hasil diskusi kelompok dengan riang gembira bersama PP pada kegiatan Lokakarya 0 Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 2 di Hotel Grand Asia Makassar, Sabtu (10/4). (jt)  

Akan tetapi masih ada pemikiran KHD yang belum terejawantahkan dalam pembelajaran di kelas. Di antaranya konsep kodrat alam dan kodrat zaman, dimana realisasi pembelajaran di kelas seringkali menyamaratakan kondisi maupun kemampuan peserta didik. Sehingga konsep menuntun KHD tidak terlaksana secara maksimal dikarenakan terkadang harus memaksakan semua peserta didik memiliki kemampuan yang sama, sementara mereka memiliki kodrat alam maupun kodrat zaman yang berbeda. Sebagai contoh, ada peserta didik yang gaya belajarnya auditori (pendengaran), ada yang visual (penglihatan), dan ada juga yang kinestetik (gerak). Tetapi dalam pembelajaran di kelas, seringkali guru hanya menjelaskan dengan menggunakan satu metode saja, sebut saja metode demonstrasi. Akibatnya anak yang gaya belajarnya kinestetik (gerak) menjadi bosan belajar di kelas, sehingga mereka kerjanya hanya keluar-masuk kelas saja.

Foto bersama PP dan CGP kelas B grup 2 pada kegiatan Lokakarya 0 Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 2 di Hotel Grand Asia Makassar, Sabtu (10/04). (jt)

Dalam konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara ada dua hal yang harus dibedakan yaitu, “Pengajaran” dan “Pendidikan” yang harus bersinergi satu sama lain. Adapun menurut beliau pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan mengarah pada memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik). Dengan kata lain, pengajaran lebih pada transfer of knowledge atau mentransfer pengetahuan, sedangkan pendidikan lebih pada pengembangan karakter anak. Guru lebih sering hanya bertindak sebagai pengajar saja dan melupakan fungsinya sebagai pendidik. Sehingga guru hanya mengejar target kurikulum tanpa mempedulikan nilai-nilai karakter yang mesti dikembangkan pada diri peserta didik. Sehubungan dengan hal itu, guru kadang hanya berfokus pada fungsinya sebagai fasilitator atau pengajar dan melupakan fungsinya sebagai model atau figur keteladanan. Padahal dalam konsep pemikiran KHD mestinya yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figur keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar.

Akib, Kepala UPT SPF SMPN 28 Makassar menyampaikan pernyataan siap mendukung program PGP didampingi CGP pada kegiatan Lokakarya 0 Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 2 di Hotel Grand Asia Makassar, Sabtu (10/04). (jt)

Setelah mengetahui konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara melalui PGP pada minggu pertama, nantinya saya akan mengutamakan fungsi saya sebagai model atau figur keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar. Karena hal ini merupakan hal yang pertama dilakukan seorang guru dalam mewujudkan peserta didik yang berkarakter.

Pembelajaran nantinya juga dilakukan dengan cara menuntun peserta didik sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya. Dalam hal ini, pembelajaran dilakukan dengan cara menuntun anak sesuai dengan keadaan dan kemampuan mereka. Pembelajaran di kelas akan mengkombinasikan antara metode ceramah, demonstrasi, dan praktik agar bisa diikuti oleh seluruh siswa baik yang memiliki gaya belajar auditori, visual, maupun kinestetik.

Kelas H, terdiri dari kepala sekolah, PP, dan CGP pada kegiatan Lokakarya 0 Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 2 di Hotel Grand Asia Makassar, Sabtu (10/04). (jt)

Saya juga akan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi peserta didik untuk menambah pengetahuan mereka dimana saja, kapan saja, dan dari mana saja. Ini saya akan lakukan melalui pembelajaran dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Proyek. Pada pembelajaran ini, peserta didik akan mengerjakan proyek secara berkelompok. Proyek yang akan mereka kerjakan tentunya berkaitan dengan pengetahuan awal yang mereka telah dapatkan di kelas. Dengan demikian, mereka akan memahami arti dan makna dari apa yang mereka pelajari di kelas karena melalui kegiatan ini mereka akan langsung menerapkan pengetahuan mereka dalam memecahkan masalah yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan belajar secara berkelompok, saya ingin menanamkan semangat gotong royong dengan menerapkan slogan pintar sendiri itu biasa, tapi pintar bersama itu luar biasa. 


Share:

2 comments:

  1. Barakallah guru itung, semoga dapat selalu menjadi inspirasi bagi sekitar.

    ReplyDelete

Komentar Terbaru

Translate

Followers

Guru Itung. Powered by Blogger.

Contact Form

Name

Email *

Message *