Kunjungi Channel YouTube kami di "Guru Itung"

Halaman

Sunday, May 30, 2021

Aksi Nyata Nilai dan Peran Guru Penggerak

Oleh: Jamaluddin Tahuddin

Seorang guru penggerak hendaknya memiliki nilai-nilai guru penggerak dalam jiwanya. Nilai-nilai itu adalah mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Kelima nilai tersebut penting dimiliki oleh setiap guru penggerak karena jika guru penggerak memiliki nilai mandiri, maka ia akan lebih leluasa berkembang karena tidak perlu lagi bergantung pada orang lain. Reflektif membantu dirinya memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kelebihan yang dimiliki sehingga ia akan selalu tampil sebagai guru yang ideal. Dengan nilai kolaborasi, pekerjaan guru penggerak, menjadi lebih mudah dan ringan karena semuanya dilakukan secara kolaboratif dengan semua pihak. Inovatif mendorong terciptanya pembaruan sehingga guru akan senantiasa melahirkan ide dan gagasan yang baru dalam mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Segala tindakan dan kebijakan yang berpihak pada murid tentunya akan membuat murid senang dan termotivasi belajar sehingga akan mendorong terwujudnya profil pelajar Pancasila. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi kebiasaan dalam berperilaku sehingga melekat menjadi karakter dari setiap guru penggerak. Nilai guru penggerak sangat mempengaruhi guru penggerak dalam memainkan perannya. 

Adapun peran guru penggerak adalah sebagai berikut:

1. Menjadi pemimpin pembelajaran melalui praktik pembelajaran yang berpihak pada murid.

Pembelajaran secara jejaring, yakni menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi serta diperoleh melalui internet.

Pembelajaran berbasis multimedia dengan media audio visual.

Pembelajaran yang interaktif dengan melibatkan guru, peserta didik, masyarakat, lingkungan alam, dan sumber/ media lainnya.

Pembelajaran dengan pola belajar kelompok (berbasis tim) dan mengembangkan pembelajaran dalam upaya pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap peserta didik.

2. Menggerakkan komunitas praktisi seperti MGMP untuk berkontribusi aktif dalam mewujudkan merdeka belajar. Melalui MGMP bisa terjalin kerjasama secara kolaboratif antar guru mata pelajaran, guru bisa meningkatkan kompetensi melalui pelatihan dan workshop di MGMP, serta saling berbagi praktik yang baik terkait pembelajaran di kelas. 



3. Guru penggerak menjadi coach bagi guru lain, misalnya dengan membimbing guru lain dalam pengolahan nilai melalui excel, pembuatan kelas online, pembuatan media pembelajaran berbasis multimedia, dan sebagainya.
 


4. Menjalin kerjasama dengan guru lain, kepala sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat sekitar dalam mencapai profil pelajar Pancasila.


5. Membantu murid untuk mandiri dalam belajar, memunculkan motivasi untuk belajar, dan mendidik karakter murid di sekolah.
Nilai dan peran guru penggerak selaras dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid yang menjiwai guru penggerak dalam memainkan perannya tentunya akan menghadirkan guru yang sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Guru yang memahami bahwa jika mereka menanam padi, tidak akan mungkin tumbuh jagung begitupun sebaliknya. Dengan kata lain, mereka akan memahami bahwa pendidikan sangat dipengaruhi oleh perlakuan mereka terhadap murid. Segala tindakan dan kebijakan guru penggerak akan senantiasa menghamba pada anak. Mereka akan memperlakukan anak sesuai kodratnya, baik itu kodrat alam maupun zamannya dan tentu saja kodrat anak adalah bermain. Dengan demikian, seorang guru penggerak tentunya akan senantiasa mendidik anak agar menjadi manusia yang baik lakunya, selaras budi dan pekertinya.
Untuk mencapai nilai-nilai guru penggerak, tentunya membutuhkan strategi tersendiri. Strategi yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
  • Senantiasa memotivasi diri untuk senantiasa melakukan perubahan dalam meningkatan kualitas pembelajaran.
  • Memaknai setiap pengalaman yang saya lalui dengan melakukan evaluasi terkait kekurangan dan kelebihan ataupun kelemahan dan kekuatan yang dimiliki. Selain itu, saya juga akan selalu membuka diri terhadap masukan dari orang lain dan melakukan perbaikan terhadap kekurangan yang saya miliki.
  • Menjalin kerjasama dengan semua pihak dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila, membangun komunikasi dengan mereka dan menanamkan rasa kepercayaan semua pihak terhadap diri saya.
  • Menjadikan nilai-nilai guru penggerak sebagai sebuah kebiasaan yang konsisten agar menjadi perilaku dan karakter yang melekat dalam diri.

Testimoni dari rekan guru:




Testimoni dari siswa:
















Share:

Catatan Akhir Pekan Guru Penggerak Part 5: Pengembangan Diri Guru Penggerak

Pekan kelima diawali dengan kegiatan membuat gambaran diri di masa depan, setelah mengikuti rangkaian program Pendidikan Guru Penggerak. Gambaran diri itu dibuat dalam bentuk gambar ilustrasi tangan/ digital dengan mengikuti panduan berupa pertanyaan-pertanyaan terkait guru penggerak seperti apa yang diimpikan, nilai-nilai apa yang diharapkan dikuasai di masa depan, dan alasan mengapa nilai-nilai tersebut penting.

Kegiatan ini membuka pikiran saya untuk lebih mengetahui arah dan tujuan saya ke depan setelah mengikuti Pendidikan Guru Penggerak. Dengan demikian, saya bisa membuat perencanaan dan Langkah konkrit dalam mencapai gambaran yang diimpikan.

Kegiatan berikutnya adalah mengelaborasi pemahaman mengenai nilai dan peran guru penggerak Bersama instruktur. Namun sebelumnya, kita diminta untuk menuangkan berbagai pertanyaan terlebih dahulu mengenai materi nilai dan peran guru penggerak yang masih ingin digali lebih lanjut pada kegiatan ini. Awalnya pertanyaan-pertanyaan itu diminta dituliskan melalui LMS. Hanya saja topik pertanyaan yang diminta mengenai budaya positif di sekolah, sementara modul yang dipelajari mengenai nilai dan peran guru penggerak. Sehingga fasilitator membuat alternatif lain dengan menyiapkan padlet untuk pertanyaan mengenai nilai dan peran guru penggerak. Oleh karena itu, saya berinisiatif membuat kedua-duanya saja. Pertanyaan mengenai budaya positif di sekolah saya posting melalui LMS, dan pertanyaan mengenai nilai dan peran guru Penggerak saya posting melalui tautan padlet yang dibagikan fasilitator.

Adapun mengenai budaya positif di sekolah, saya mempertanyakan dua hal yaitu bagimana cara mengukur sejauh mana budaya positif di sekolah dianggap telah berpihak pada murid dan Langkah apa yang harus dilakukan agar budaya positif berpihak pada murid. Sedangkan pertanyaan mengenai nilai dan peran guru penggerak yaitu bagaimana cara agar kita bisa selalu memiliki inovasi seperti motto salah satu merk motor terkenal yakni “Inovasi Tiada Henti” dan cara mengukur bahwa segala kebijakan yang kita ambil telah berpihak pada murid.

Kegiatan ini membuka pikiran saya mengenai apa yang ingin saya ketahui lebih lanjut mengenai nilai dan peran guru penggerak. Sehingga saya menjadi lebih berminat dan termotivasi untuk mengikuti pertemuan bersama instruktur nantinya. Selain itu, dari pertanyaan-pertanyaan itu saya juga tertarik untuk menggali lebih jauh mengenai nilai dan peran guru penggerak dari sumber lain.

Selanjutnya kami mengikuti pertemuan dengan instruktur yang dilakukan secara virtual melalui Google Meet. Web meeting ini diikuti oleh para CGP dari 4 orang fasilitator. Dimana masing-masing fasilitator menangani 16 orang CGP, sehingga CGP yang mengikuti web meeting itu semuanya ada 64 orang. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 JP Bersama dengan instruktur Ibu Twi Endah Kurniyanti.

Dalam pemaparannya, intruktur memberikan penguatan bahwa seorang guru penggerak sebelum menggerakkan orang lain, ia harus bisa tergerak terlebih dahulu agar bisa bergerak dan menggerakkan orang lain. Dalam hal ini, seorang guru Penggerak hendaknya bisa menjadi teladan, mengelola kerja otak dan emosinya, melakukan pembiasaan secara konsisten dan sistematis terhadap hal-hal yang positif serta senantiasa mengambil makna dan pembelajaran positif dari setiap pengalaman atau praktik baik yang dilakukan. Ibu Twi membawakan materi dengan baik dengan penyampaian yang jelas dan mudah dipahami. Penyajian materi yang sesekali dikemas dalam bentuk permainan membuat kita senang dan tidak merasa bosan selama mengikuti kegiatan. Dari pemaparan tersebut, saya dapat memahami lebih jauh mengenai nilai dan peran Guru Penggerak serta keterkaitannya dengan filosofi pendidikan KHD.

Adapun nilai-nilai yang harus dimiliki oleh seorang guru penggerak adalah mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut penting dimiliki oleh setiap guru penggerak karena jika guru penggerak memiliki nilai mandiri, maka ia akan lebih leluasa berkembang karena tidak perlu lagi bergantung pada orang lain. Reflektif membantu dirinya memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kelebihan yang dimiliki sehingga ia akan selalu tampil sebagai guru yang ideal. Dengan nilai kolaborasi, pekerjaan guru penggerak, menjadi lebih mudah dan ringan karena semuanya dilakukan secara kolaboratif dengan semua pihak. Inovatif mendorong terciptanya pembaruan sehingga guru akan senantiasa melahirkan ide dan gagasan yang baru dalam mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Segala tindakan dan kebijakan yang berpihak pada murid tentunya akan membuat murid senang dan termotivasi belajar sehingga akan mendorong terwujudnya profil pelajar Pancasila. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi kebiasaan dalam berperilaku sehingga melekat menjadi karakter dari setiap guru penggerak. Nilai guru penggerak sangat mempengaruhi guru penggerak dalam bersikap dan bertindak. Hal ini sangat dibutuhkan seorang guru penggerak dalam memainkan perannya sebagai pemimpin pembelajaran, penggerak komunitas praktisi, coach bagi guru lain, pendorong kolaborasi, dan mewujudkan kepemimpinan murid.

Nilai dan peran guru penggerak selaras dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid yang menjiwai guru penggerak dalam memainkan perannya tentunya akan menghadirkan guru yang sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Guru yang memahami bahwa jika mereka menanam padi, tidak akan mungkin tumbuh jagung begitupun sebaliknya. Dengan kata lain, mereka akan memahami bahwa pendidikan sangat dipengaruhi oleh perlakuan mereka terhadap murid. Segala tindakan dan kebijakan guru penggerak akan senantiasa menghamba pada anak. Mereka akan memperlakukan anak sesuai kodratnya, baik itu kodrat alam maupun zamannya dan tentu saja kodrat anak adalah bermain. Dengan demikian, seorang guru penggerak tentunya akan senantiasa mendidik anak agar menjadi manusia yang baik lakunya, selaras budi dan pekertinya.

Untuk mencapai nilai-nilai guru penggerak, tentunya membutuhkan strategi tersendiri. Strategi yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

-     Senantiasa memotivasi diri untuk senantiasa melakukan perubahan dalam meningkatan kualitas pembelajaran.

-  Memaknai setiap pengalaman yang saya lalui dengan melakukan evaluasi terkait kekurangan dan kelebihan ataupun kelemahan dan kekuatan yang dimiliki. Selain itu, saya juga akan selalu membuka diri terhadap masukan dari orang lain dan melakukan perbaikan terhadap kekurangan yang saya miliki.

-   Menjalin kerjasama dengan semua pihak dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila, membangun komunikasi dengan mereka dan menanamkan rasa kepercayaan semua pihak terhadap diri saya.

-   Menjadikan nilai-nilai guru penggerak sebagai sebuah kebiasaan yang konsisten agar menjadi perilaku dan karakter yang melekat dalam diri.

Profil pelajar Pancasila sulit terwujud oleh seorang guru penggerak saja. Oleh karena itu, guru penggerak harus berkolaborasi dengan semua pihak agar tugas menjadi lebih mudah dan ringan. Pihak-pihak yang dapat membantu tugas guru penggerak dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila adalah sebagai berikut:

-     Guru lain atau teman sejawat sebagai mitra dalam melakukan gerakan perubahan yang menuntut guru lebih mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid sebagai upaya mewujudkan profil pelajar Pancasila.

-    Kepala sekolah sebagai pemangku kebijakan di sekolah yang berperan dalam menciptakan situasi belajar mengajar yang kondusif bagi guru dan murid. Kebijakan kepala sekolah hendaknya senantiasa berpihak pada murid agar gerakan yang dilakukan oleh guru dan kepala sekolah bisa berjalan serasi dan selaras.

-  Orang tua siswa sebagai pendamping anak di rumah turut berpartisipasi dalam membimbing dan memberikan motivasi kepada anak, baik dengan cara memberikan semangat maupun dengan cara meningkatkan kebutuhan sekolah. Orang tua hendaknya mampu menjadi teman yang bahagia untuk belajar.

-       Masyarakat dapat berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah baik moril maupun materil. Masyarakat memiliki peran penting dalam membantu anak belajar di rumah, terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler, pembahasan kebijakan sekolah, dan konsultasi terkait masalah pendidikan anak.

Sebagai bentuk aksi nyata dalam penguatan nilai dan peran guru penggerak dapat diakses melalui tautan berikut:

https://www.guruitung.com/2021/05/aksi-nyata-nilai-dan-peran-guru.html

Kegiatan di pekan kelima diakhiri dengan kegiatan Lokakarya 1 yang dilaksanakan di Hotel Aerotel Smile. Pada kegiatan ini, kami digabung dengan dua kelompok baru dengan orang-orang yang sebagian besar baru dikenal. Kegiatan yang dipandu oleh tiga orang pendamping ini diawali dengan perkenalan antara sesama CGP dan para pendamping. Semua CGP dan pendamping membuat lingkaran besar, kemudian setiap peserta maju satu langkah lalu menyebutkan nama, asal instansi, dan hal positif dalam dirinya. Selanjutnya setiap orang menuliskan kemampuan apa saja yang perlu dimiliki oleh seorang guru penggerak pada secarik kertas dan kemampuan yang dimiliki dalam menjalankan peran sebagai guru pada kertas lain kemudian menempelkannya di papan.

Setelah itu, peserta dibagi menjadi empat kelompok yang baru dan membahas empat kompetensi guru penggerak yang sudah dimiliki dan yang belum dimiliki serta upaya apa yang akan dilakukan untuk mencapainya. Keempat kompetensi itu adalah mengembangkan diri dan orang lain, memimpin pembelajaran, memimpin manajemen sekolah, dan memimpin pengembangan sekolah. Setiap peserta merefleksi posisi diri masing-masing terhadap kompetensi tersebut kemudian berbagi cerita dengan rekan kelompoknya. Selanjutnya setiap peserta membuat rencana pengembangan diri yang akan ditindaklanjuti pada lokakarya 5 dan 8 dilanjutkan dengan pengisian lembar evaluasi kegiatan sebagai upaya peningkatan kualitas lokakarya berikutnya.

Dari kegiatan Lokakarya 1 ini, banyak hal baru yang diketahui dari praktik baik teman-teman CGP maupun pendamping. Selain itu, saya juga bisa menggali lebih banyak hal-hal positif yang sudah dimiliki dan hal-hal apa yang perlu dikembangkan terkait kompetensi guru penggerak. Sehingga arah dan tujuan yang ingin dicapai pada program Guru Penggerak ini semakin nampak jelas di depan mata.

 

 


Share:

Friday, May 28, 2021

Nilai dan Peran Guru Penggerak dalam Kaitannya dengan Filosofi Ki Hajar Dewantara

Oleh: Jamaluddin Tahuddin

Nilai-nilai yang harus dimiliki oleh seorang guru penggerak adalah mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut penting dimiliki oleh setiap guru penggerak karena jika guru penggerak memiliki nilai mandiri, maka ia akan lebih leluasa berkembang karena tidak perlu lagi bergantung pada orang lain. Reflektif membantu dirinya memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kelebihan yang dimiliki sehingga ia akan selalu tampil sebagai guru yang ideal. Dengan nilai kolaborasi, pekerjaan guru penggerak, menjadi lebih mudah dan ringan karena semuanya dilakukan secara kolaboratif dengan semua pihak. Inovatif mendorong terciptanya pembaruan sehingga guru akan senantiasa melahirkan ide dan gagasan yang baru dalam mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Segala tindakan dan kebijakan yang berpihak pada murid tentunya akan membuat murid senang dan termotivasi belajar sehingga akan mendorong terwujudnya profil pelajar Pancasila. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi kebiasaan dalam berperilaku sehingga melekat menjadi karakter dari setiap guru penggerak. Nilai guru penggerak sangat mempengaruhi guru penggerak dalam bersikap dan bertindak. Hal ini sangat dibutuhkan seorang guru penggerak dalam memainkan perannya sebagai pemimpin pembelajaran, penggerak komunitas praktisi, coach bagi guru lain, pendorong kolaborasi, dan mewujudkan kepemimpinan murid.

Nilai dan peran guru penggerak selaras dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid yang menjiwai guru penggerak dalam memainkan perannya tentunya akan menghadirkan guru yang sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Guru yang memahami bahwa jika mereka menanam padi, tidak akan mungkin tumbuh jagung begitupun sebaliknya. Dengan kata lain, mereka akan memahami bahwa pendidikan sangat dipengaruhi oleh perlakuan mereka terhadap murid. Segala tindakan dan kebijakan guru penggerak akan senantiasa menghamba pada anak. Mereka akan memperlakukan anak sesuai kodratnya, baik itu kodrat alam maupun zamannya dan tentu saja kodrat anak adalah bermain. Dengan demikian, seorang guru penggerak tentunya akan senantiasa mendidik anak agar menjadi manusia yang baik lakunya, selaras budi dan pekertinya.

Untuk mencapai nilai-nilai guru penggerak, tentunya membutuhkan strategi tersendiri. Strategi yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Senantiasa memotivasi diri untuk senantiasa melakukan perubahan dalam meningkatan kualitas pembelajaran.
  • Memaknai setiap pengalaman yang saya lalui dengan melakukan evaluasi terkait kekurangan dan kelebihan ataupun kelemahan dan kekuatan yang dimiliki. Selain itu, saya juga akan selalu membuka diri terhadap masukan dari orang lain dan melakukan perbaikan terhadap kekurangan yang saya miliki.
  • Menjalin kerjasama dengan semua pihak dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila, membangun komunikasi dengan mereka dan menanamkan rasa kepercayaan semua pihak terhadap diri saya.
  • Menjadikan nilai-nilai guru penggerak sebagai sebuah kebiasaan yang konsisten agar menjadi perilaku dan karakter yang melekat dalam diri.

Profil pelajar Pancasila sulit terwujud oleh seorang guru penggerak saja. Oleh karena itu, guru penggerak harus berkolaborasi dengan semua pihak agar tugas menjadi lebih mudah dan ringan. Pihak-pihak yang dapat membantu tugas guru penggerak dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila adalah sebagai berikut:

  • Guru lain atau teman sejawat sebagai mitra dalam melakukan gerakan perubahan yang menuntut guru lebih mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid sebagai upaya mewujudkan profil pelajar Pancasila.  
  • Kepala sekolah sebagai pemangku kebijakan di sekolah yang berperan dalam menciptakan situasi belajar mengajar yang kondusif bagi guru dan murid. Kebijakan kepala sekolah hendaknya senantiasa berpihak pada murid agar gerakan yang dilakukan oleh guru dan kepala sekolah bisa berjalan serasi dan selaras.
  • Orang tua siswa sebagai pendamping anak di rumah turut berpartisipasi dalam membimbing dan memberikan motivasi kepada anak, baik dengan cara memberikan semangat maupun dengan cara meningkatkan kebutuhan sekolah. Orang tua hendaknya mampu menjadi teman yang bahagia untuk belajar.
  • Masyarakat dapat berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah baik moril maupun materil. Masyarakat memiliki peran penting dalam membantu anak belajar di rumah, terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler, pembahasan kebijakan sekolah, dan konsultasi terkait masalah pendidikan anak. 

Share:

Friday, May 21, 2021

Video Pembelajaran Statistika Bagian 3 || Ukuran Penyebaran Data


Video pembelajaran statistika bagian 3 ini membahas tentang cara menghitung ukuran penyebaran data yang terdiri dari jangkauan (range), kuartil, dan jangkauan interkuartil.

Link video statistika bagian 1: https://youtu.be/MGj2RyRyioY
Link video statistika bagian 2: https://youtu.be/Y96gKn7cr5k
Link video statistika bagian 3: https://youtu.be/f9TWdAIdmS0

#Range#Kuartil#Jangkauan


Share:

Thursday, May 20, 2021

Video Pembelajaran Statistika Bagian 2 || Ukuran Pemusatan Data


Video pembelajaran statistika bagian 2 ini membahas tentang cara menghitung ukuran pemusatan data yang terdiri dari rata-rata (mean), nilai tengah (median), dan nilai yang paling sering muncul (modus).

Link video statistika bagian 1: https://youtu.be/MGj2RyRyioY
Link video statistika bagian 2: https://youtu.be/Y96gKn7cr5k
Link video statistika bagian 3: https://youtu.be/f9TWdAIdmS0

#Mean#Median#Modus


Share:

Video Pembelajaran Statistika Bagian 1 || Melawan Covid dengan Statistik


Video pembelajaran statistika bagian 1 ini membahas tentang data perkembangan kasus Covid di Indonesia, pengertian statistika, datum dan data, populasi dan sampel, jenis data, metode pengumpulan data, serta cara mengurutkan data tunggal pada pengolahan data.

Link video statistika bagian 1: https://youtu.be/MGj2RyRyioY
Link video statistika bagian 2: https://youtu.be/Y96gKn7cr5k
Link video statistika bagian 3: https://youtu.be/f9TWdAIdmS0

#Covid#Statistik





Share:

Monday, May 10, 2021

Catatan Akhir Pekan Guru Penggerak Part 4: Guru Penggerak antara Harapan dan Tantangan

Oleh: Jamaluddin Tahuddin

Kegiatan minggu ke-4 diawali dengan melakukan eksplorasi konsep melalui diskusi yang dilakukan secara mandiri terkait Profil Pelajar Pancasila, Peran serta Nilai dari Guru Penggerak. Eksplorasi ini dilakukan dengan menjawab pertanyaan di LMS, lalu diposting pada bagian Eksplorasi Konsep-Forum Diskusi Tertulis. Dari pertanyaan tersebut, kami mencoba mengeksplor sejauh mana pemahaman kami tentang hubungan antara Profil Pelajar Pancasila, dengan Peran serta Nilai Guru Penggerak yang sudah dipelajari. Kemudian mencoba memecahkan masalah yang bersifat kasuistik terkait nilai dan peran seorang Guru Penggerak. Dalam masalah itu, kami mencoba memberikan solusi jika dalam menjalankan peran sebagai Guru Penggerak, ternyata ada guru ataupun kepala sekolah yang kurang mendukung. 

Dalam hal ini, kami memaparkan bahwa peran guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran sangat dibutuhkan dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila. Dalam memainkan peran tersebut, guru penggerak diharapkan memahami dan menjiwai nilai-nilai dari seorang guru penggerak. Sehingga nilai-nilai itu bisa berpengaruh dalam setiap pergerakan guru penggerak. Nilai-nilai itu adalah Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, serta Berpihak pada Murid. Dan jika ada rekan Guru ataupun Kepala Sekolah yang kurang mendukung dalam menjalankan peran sebagai Guru Penggerak, maka disinilah dibutuhkan implementasi dari nilai-nilai guru penggerak. Guru penggerak yang memiliki nilai kolaboratif akan selalu membangun komunikasi dengan mereka dan menanamkan rasa kepercayaan semua pihak terhadap dirinya. Dengan nilai mandiri yang dimiliki, guru penggerak tentunya memiliki motivasi dalam melakukan perubahan dan senantiasa melakukan inovasi serta siap bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya tanpa harus menunggu perintah dari siapapun. Namun demikian, dengan nilai reflektif guru penggerak tentunya tetap membuka diri terhadap masukan dari orang lain dan senantiasa melakukan evaluasi terkait kekurangan dan kelebihan yang dimiliki.

Kegiatan hari ke-2 adalah kembali mengeksplorasi secara mandiri masih terkait dengan nilai dan peran guru penggerak. Ini dilakukan dengan menjawab pertanyaan terkait hal apa saja yang pernah dilakukan sehubungan dengan  peran dan nilai guru Penggerak dan apa yang bisa dilakukan oleh seorang Guru Penggerak untuk menguatkan peran serta nilai tersebut. Jawaban dari setiap CGP kemudian didiskusikan pada hari ke-3 dalam grup kecil melalui ruang kolaborasi dengan menggunakan G-Meet. Melalui kolaborasi ini, setiap grup kecil membuat kesimpulan berdasarkan pengalaman dan aksi yang bisa dilakukan untuk menguatkan peran dan nilai Guru Penggerak. Kesimpulan itu dibuat dalam bentuk powerpoint atau poster.

Adapun kesimpulan dari hasil diskusi dalam grup kecil kami adalah sebagai berikut:

1. Hal-hal yang bisa dilakukan sehubungan dengan  peran dan nilai guru Penggerak

a. Menjadi pemimpin pembelajaran melalui praktik pembelajaran yang berpihak pada murid. Pembelajaran yang berpihak pada murid terdiri:

1) Pembelajaran yang interaktif dengan melibatkan guru, peserta didik, masyarakat, lingkungan alam, dan sumber/ media lainnya.

2) Pembelajaran secara jejaring, yakni menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi serta diperoleh melalui internet.

3) Pembelajaran berbasis multimedia dengan media audio visual.

4) Pembelajaran kritis melalui pembelajaran berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skill) serta pembelajaran aktif yang memungkinkan siswa aktif mencari melalui pendekatan saintifik.

5) Pembelajaran dengan pola belajar kelompok (berbasis tim).

6) Mengembangkan pembelajaran dalam upaya pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap peserta didik.

7) Pembelajaran yang bisa melibatkan banyak disiplin ilmu (multidisciplines).

b. Menggerakkan MGMP untuk berkontribusi aktif dalam mewujudkan merdeka belajar. Melalui MGMP bisa terjalin kerjasama secara kolaboratif antar guru mata pelajaran, guru bisa meningkatkan kompetensi melalui pelatihan dan workshop di MGMP, serta saling berbagi praktik yang baik terkait pembelajaran di kelas. 

c. Guru penggerak menjadi coach bagi guru lain, misalnya dengan membimbing guru lain dalam pengolahan nilai melalui excel, pembuatan kelas online, pembuatan media pembelajaran berbasis multimedia, dan sebagainya.

d. Menjalin kerjasama dengan guru lain, kepala sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat sekitar dalam mencapai profil pelajar Pancasila.

e. Membantu murid untuk mandiri dalam belajar, memunculkan motivasi untuk belajar, dan mendidik karakter murid di sekolah.

2. Untuk menguatkan peran guru penggerak, terlebih dahulu memulainya dari diri sendiri dengan membiasakan nilai-nilai guru penggerak dalam setiap bertindak dan berperilaku. Hal-hal yang bisa dilakukan oleh seorang guru penggerak adalah sebagai berikut:

a. Memunculkan motivasi dalam dirinya dalam melakukan perubahan dan siap bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.

b. Memaknai setiap pengalaman yang dilalui dengan melakukan evaluasi terkait kekurangan dan kelebihan ataupun kelemahan dan kekuatan yang dimiliki. Selain itu, guru penggerak juga harus selalu membuka diri terhadap masukan dari orang lain dan melakukan perbaikan terhadap kekurangan yang dimiliki. 

c. Menjalin kerjasama dengan semua pihak dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila, membangun komunikasi dengan mereka dan menanamkan rasa kepercayaan semua pihak terhadap dirinya.

d. Memiliki gagasan-gagasan yang baru terhadap berbagai macam masalah yang dihadapi. Gagasan-gagasan tersebut senantiasa bersifat tepat guna dan merupakan ide orisinalnya.

Kesimpulan dari hasil diskusi grup kecil tersebut selanjutnya dipresentasikan di depan kelompok lain dan fasilitator pada hari ke-4. Presentasi ini dilakukan melalui web meeting  dengan menggunakan aplikasi G-meet dan dipandu langsung oleh fasilitator. Setelah melakukan beberapa revisi berdasarkan saran dan masukan dari kelompok lain, selanjutnya diupload pada menu yang telah disiapkan di LMS pada hari ke-5. 

Pada hari ke-6, kami melakukan refleksi terkait diri masing-masing berdasarkan peran dan nilai guru penggerak. Pada bagian ini, kami meninjau kembali perjalanan pencarian jati diri sebagai Guru Penggerak sambil mengingat-ingat kembali jawaban kami pada bagian Mulai Dari Diri, terutama pada bagian nilai dan peran guru penggerak. Kemudian merenungkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diberikan terkait nilai diri yang dimiliki, perasaan setelah mengetahui nilai dan peran guru penggerak, nilai dan peran guru penggerak yang sudah dimiliki, nilai dan peran yang perlu penguatan, langkah-langkah yang akan ditempuh serta hambatannya.

Berdasarkan hasil perenungan terhadap pengalaman sebelumnya, pada dasarnya nilai-nilai guru penggerak sudah ada pada diri saya. Hanya saja belum memiliki nilai-nilai guru penggerak secara utuh. Ini disebabkan karena dampaknya bagi peserta didik belum terlalu maksimal. Nilai-nilai yang ada pada diri saya belum menjadi kebiasaan sehingga belum menjadi karakter dalam diri saya. Sepintas semua nilai-nilai guru penggerak sudah ada dalam diri saya. Hanya saja belum menjadi kebiasaan sehingga belum menjadi karakter dalam diri saya. Sehingga dampaknya bagi peserta didik juga belum maksimal. Diantara nilai-nilai yang sudah saya pelajari, nilai yang perlu saya kuatkan adalah nilai inovatif dan berpihak pada murid. Karena selama ini saya masih kurang dalam berinovasi terutama dalam pengembangan pembelajaran di kelas. Selain itu, saya juga masih kurang maksimal dalam mengimplementasikan nilai berpusat pada murid. Dalam membuat perencanaan pembelajaran dan pengambilan keputusan terkadang tidak mempertimbangkan kebutuhan peserta didik. 

Setelah mengetahui peran dari seorang guru penggerak, saya baru menyadari bahwa sekiranya semua guru di Indonesia bergerak dan memainkan kelima peran guru penggerak, maka saya yakin dan percaya Pendidikan di Indonesia akan maju. Peserta didik akan mencerminkan profil pelajar Pancasila dan mereka akan meraih merdeka belajar. Untuk menguatkan peran dan nilai guru penggerak khusus untuk diri saya, maka terlebih dahulu memulainya dari diri sendiri dengan membiasakan nilai-nilai guru penggerak dalam setiap bertindak dan berperilaku. Hal-hal yang bisa saya lakukan adalah sebagai berikut:

a. Memunculkan motivasi dalam diri saya untuk melakukan perubahan dan siap bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan.

b. Memaknai setiap pengalaman yang saya lalui dengan melakukan evaluasi terkait kekurangan dan kelebihan ataupun kelemahan dan kekuatan yang dimiliki. Selain itu, saya juga harus selalu membuka diri terhadap masukan dari orang lain dan melakukan perbaikan terhadap kekurangan yang saya miliki. 

c. Menjalin kerjasama dengan semua pihak dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila, membangun komunikasi dengan mereka dan menanamkan rasa kepercayaan semua pihak terhadap diri saya.

d. Senantiasa memunculkan gagasan-gagasan yang baru terhadap berbagai macam masalah yang dihadapi. Gagasan-gagasan tersebut senantiasa bersifat tepat guna dan merupakan ide orisinal saya.

Hanya saja dalam menguatkan peran dan nilai guru penggerak dalam diri saya, masih ada beberapa hal yang berpotensi menjadi penghambat, di antaranya adalah sebagai berikut:

a. Masih adanya teman sejawat yang sulit membuka diri untuk berkolaborasi mendukung terwujudnya profil pelajar Pancasila. Umumnya ini disebabkan karena mereka masih susah keluar dari zona nyaman. Dalam pikiran mereka yang penting sudah menunaikan kewajiban mengajar di kelas dan menerima gaji setiap bulan itu sudah cukup. Tanpa harus repot memikirkan bagaimana meningkatkan kompetensi agar kualitas pembelajaran juga meningkat.

b. Kepala sekolah sebagai penentu kebijakan di sekolah terkadang sulit juga membuka diri untuk menerima sebuah perubahan. Jangankan rapat penyusunan RKAS, rapat kerjapun tidak pernah dilakukan. Sehingga apabila kebiasaan ini berlanjut, maka komunikasi yang diharapkan bisa terjalin dengan maksimal dengan kepala sekolah dan guru lain menjadi terhambat.

Akan tetapi, sekalipun demikian sebagai guru penggerak nantinya saya akan tetap berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan teman sejawat dan kepala sekolah. Saya akan terus meyakinkan mereka melalui aksi nyata dan bukti konkret untuk meyakinkan mereka akan pentingnya perubahan ke arah yang lebih baik.


Share:

Monday, May 3, 2021

Catatan Akhir Pekan Guru Penggerak Part 3: Nilai dan Peran Guru Penggerak

Oleh: Jamaluddin Tahuddin

Minggu ini kami diberi kesempatan untuk mendengarkan langsung paparan konsep Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara oleh Ki Prijo Dwiarsa dari Persatuan Perguruan Taman siswa melalui video converence. Selain itu, ada juga Ibu Min Hermina, M.Pd dari SMPN 1 Cikampek yang berbagi praktik baiknya terkait penerapan Merdeka Belajar di sekolahnya. Dalam pemaparan mereka, Ki Prijo lebih pada konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara, sedangkan Ibu Min Hermina pada penerapannya di sekolah. Dalam hal ini Ibu Min Hermina memaparkan keberhasilannya dalam membuat gerakan gemar membaca dan menulis di sekolahnya melalui program CIBAKU SACI MASAGI (Cinta Baca Buku, Satu Cikampek, Maca Sareng Babagi) dan MIKREMES (Mikroblog Kreatif Menyenangkan & Sesuai). Selain itu, ia juga telah berhasil menjalin Kerjasama dengan Australia dalam program WJLRC (West Java Leader’s Reading Challenge).

Pemaparan Ki Prijo dan Ibu Min Hermina sangat menginspirasi dan memotivasi untuk menerapkan pemikiran Ki Hajar Dewantara di sekolah. Perpaduan kedua paparan ini sangat tepat dalam memahami konsep pemikiran KHD. Dari keduanya, pikiran bisa terbuka untuk lebih memahami konsep pemikiran KHD karena kita tidak hanya mengetahui konsep saja melainkan juga mengetahui bentuk penerapannya di sekolah.

Pemaparan keduanya sangat membantu kita mengetahui bagaimana bentuk penerapan pemikiran Ki Hadjar Dewantara di kelas dan sekolah. Konsep pemikiran KHD dapat diterapkan di sekolah sebagai solusi atas masalah yang dihadapi di sekolah. Sebagai contoh, Ibu Min Hermina telah berhasil mengatasi kurangnya minat baca dan menulis siswa di sekolahnya dengan konsep Merdeka Belajar. 

Setelah itu, kami diberi kesempatan untuk meninjau ulang keseluruhan materi dari Pembelajaran 1 hingga Pembelajaran 6 dan memperkuat koneksi antar materi yang sudah dipelajari. Sebagai pedoman dalam melakukan koneksi antar materi, pemaparan itu setidaknya memuat tiga poin yaitu pemahaman awal mengenai pembelajaran di kelas sebelum mempelajari modul, perubahan pada pemikiran atau perilaku setelah mempelajari modul, dan apa yang bisa segera diterapkan di kelas agar kelas mencerminkan pemikiran KHD.

Penugasan membuat koneksi antar materi menurut saya sangat menarik karena dengan meninjau ulang seluruh materi yang telah dipelajari, kita bisa mengingat dan mengkoneksikan antar materi yang telah dipelajari. Selain itu, kita juga bisa mengetahui seberapa besar pengetahuan yang didapatkan setelah menghubungkan pemahaman awal dengan materi yang telah dipelajari. Lebih menariknya lagi karena kita tidak digiring hanya sebatas beropini saja, melainkan sudah harus merencanakan atau setidaknya memikirkan implementasi dari konsep yang telah dipelajari.  

Setelah meninjau ulang keseluruhan materi dan memperkuat koneksi antar materi yang sudah dipelajari, diperoleh banyak sekali konsep pemikiran KHD yang dapat diadopsi ke dalam pembelajaran. Di antaranya, peserta didik dituntun sesuai kodratnya masing-masing agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Pendidikan harus membuat siswa berdaya dan mampu memberdayakan orang lain. Sehingga siswa mampu mandiri dan tidak tergantung orang lain. Dalam hal ini, guru dituntut agar bisa menciptakan sebuah lingkungan belajar yang baik. Untuk itu, guru harus menata, mengolah, memelihara lingkungan belajar agar layak untuk digunakan belajar. Lingkungan belajar yang baik tidak lepas dari peran serta warga sekolah. Mereka harus terlibat dalam mewujudkan lingkungan belajar yang layak bagi tumbuh kembangnya anak sesuai kodratnya. Dalam hal ini, guru hendaknya hadir di tengah-tengah warga sekolah dengan mengemban tiga konsep kepemimpinan Ki Hajar Dewantara. Guru hendaknya bisa memberikan teladan,  mampu berkerja sama dan memotivasi warga sekolah, serta memberikan dorongan moral kepada mereka.

Pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru hendaknya berpusat pada siswa. Siswa hendaknya terlibat bukan hanya pada saat pelaksanaan pembelajaran, melainkan juga dilibatkan pada saat perencanaan pembelajaran. Hal ini dilakukan agar pembelajaran betul-betul bisa terlaksana sesuai kodrat anak. Tidak hanya itu, pembelajaran yang dilakukan guru hendaknya bisa menuntun mereka dalam mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu, permainan bisa menjadi salah satu bagian dalam pembelajaran karena bermain adalah kodrat anak. Permainan dapat membangkitkan pikiran, perasaan, kemauan, dan tenaga (Cipta, Karsa, Karya, dan Pekerti) yang sudah ada pada diri anak. Dengan demikian, siswa bisa belajar dengan penuh kebahagiaan tanpa ada rasa takut maupun merasa tertekan.

Seyogianya setelah meninjau ulang keseluruhan materi dan memperkuat koneksi antar materi yang sudah dipelajari, selanjutnya adalah melakukan aksi nyata dengan menerapkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara di kelas dan sekolah. Akan tetapi, hal ini tidak memungkinkan terlaksana secara maksimal karena semua sekolah di Makassar belum mendapatkan ijin dari pemerintah untuk melakukan pembelajaran tatap muka. 

Selanjutnya kami dituntun mengidentifikasi nilai-nilai diri sendiri, yang selama ini melekat dalam pribadi masing-masing dengan membuat diagram trapesium usia. Diagram tersebut membagi usia dalam tiga tahap, yakni tahap usia sekolah, usia aktif/ kerja, dan usia pensiun. Kemudian menuliskan secara detail masing-masing satu peristiwa yang bernuansa positif dan negatif yang terjadi pada saat usia sekolah. Dalam setiap peristiwa itu, dituliskan orang-orang yang terlibat serta selisih dari usia sekarang dan usia pada saat kedua peristiwa tersebut terjadi. Setelah itu, kami dituntun merefleksi kedua peristiwa tersebut dengan menuliskan alasan mengapa momen yang terjadi di masa sekolah masih dapat dirasakan dan mungkin masih dapat memengaruhi diri hingga sekarang. Selain itu, kami juga diminta menuliskan pendapat mengenai peran dari seorang Guru jika dikaitkan dengan trapesium usia tersebut.

Awalnya saya mengira tugas membuat diagram trapesium usia adalah hal yang biasa-biasa saja. Ternyata tugas tersebut sungguh menarik dan luar biasa, karena dengan membuat diagram tersebut kita bisa lebih mengenali diri sendiri dan memahami peran seorang guru di masa sekolah yang masih berpengaruh dalam kehidupan hingga dewasa.

Melalui trapesium usia, diketahui bahwa guru sangat berperan pada saat usia sekolah. Usia sekolah merupakan tahap pembentukan karakter, nilai, dan prinsip hidup. Sehingga hadirnya guru sebagai sosok pendidik menjadi hal yang sangat krusial. Pada tahap pembentukan karakter, nilai, dan prinsip hidup tersebut, seorang anak membutuhkan seseorang yang mampu membimbing sekaligus menjadi teladan mereka.

Setelah mencoba memahami nilai dan peran guru melalui trapesium usia, selanjutnya melakukan eksplorasi secara mandiri terhadap konsep nilai dan peran Guru Penggerak dengan melakukan aktifitas yang berbentuk paparan materi. Paparan materi ini terdiri dari 24 halaman, dua di antaranya merupakan pengantar dan penutup. Di beberapa bagian terdapat beberapa pertanyaan yang harus dijawab untuk mendukung pemahaman terhadap nilai dan peran guru penggerak.

Awalnya merasa capek dan bosan melihat rangkaian materi yang panjang dan serasa tak berujung dengan pertanyaan yang monoton. Akan tetapi ternyata rangkaian materi dan pertanyaan itu mampu membuat saya melakukan eksplorasi konsep terhadap nilai dan peran guru penggerak.

Pembentukan karakter sangat dipengaruhi oleh pola pikir, kepercayaan, nilai-nilai, keteladanan, sistem/ aturan, dan lingkungan seperti digambarkan pada diagram Identitas Gunung Es. Diagram identitas gunung es pertama kali diperkenalkan oleh psikolog tim Bandung/ Jabar Masagi dalam program penguatan karakter sejak tahun 2016. Konsep perubahan prilaku menjadi karakter dianalogikan seperti gunung es. Bagian gunung es yang nampak di atas permukaan air hanya 12% dan sisanya 88% berada di bawah permukaan air. Karakter dari seseorang diibaratkan seperti bagian gunung es yang nampak di atas permukaan air. Karakter yang bisa terlihat oleh orang lain dan dapat disadari hanya sebesar 12%, sisanya sebesar 88% berada dalam alam bawah sadar manusia. Pola pikir, kepercayaan, nilai-nilai, dan soft skills yang mempengaruhi perilaku manusia berada di dalam diri manusia. Perilaku-perilaku yang telah berulang kali dilakukan menjadi kebiasaan-kebiasaan dan menggambarkan karakter dari seseorang. Oleh karena itu, untuk membentuk karakter perlu pembiasaan. Pembiasaan ini membutuhkan keteladanan dan sistem/ aturan yang konsisten.

Guru hendaknya senantiasa berusaha menggerakkan orang lain. Untuk menggerakkan orang lain, kita terlebih dahulu harus tergerak kemudian bergerak hingga akhirnya bisa menggerakkan orang lain. Semua itu tidak lepas dari bagaimana kita bersikap dan mengambil keputusan yang tentunya sangat dipengaruhi oleh sistem berpikir dalam otak kita. Struktur otak manusia masih memiliki kesamaan dengan otak reptil, mamalia dan primata. Sistem berpikir pada manusia terdiri dari dua bagian yaitu sistem berpikir cepat dan lambat. Sistem berpikir cepat diperankan oleh otak reptil dan otak mamalia manusia, sedangkan sistem berpikir lambat diperankan oleh otak primata yang terhubung dengan otak luhur manusia. Pada sistem berpikir cepat semua keputusan terjadi sangat cepat, intuitif, naluriah, hampir seperti otomatis. Sedangkan di sistem berpikir lambat, rasional dan penuh perhitungan. Kita menggunakan sistem berpikir cepat saat melakukan analisa, problem solving, dan memecahkan hal-hal yang rumit. Terkadang manusia salah dalam mengambil keputusan karena ia mengambil keputusan berdasarkan intuisi saja tanpa melakukan analisa terlebih dahulu. Oleh karena itu, dalam mengambil keputusan kita jangan bergantung pada intuisi saja, melainkan harus dipadukan dengan logika dan pemikiran yang rasional.

Profil pelajar Pancasila merupakan pedoman pendidikan di Indonesia yang mengharapkan terwujudnya pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Profil pelajar Pancasila terdiri dari beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Pada profil yang pertama, pelajar Indonesia diharapkan menjadi insan yang memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, pelajar Indonesia diharapkan bisa mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitasnya dan tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain. Ketiga, pelajar Indonesia diharapkan bisa melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah, dan ringan. Keempat, pelajar Indonesia diharapkan bisa bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Kelima, pelajar Indonesia diharapkan mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi, dan menyimpulkannya. Keenam, pelajar Indonesia diharapkan mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat dan berdampak.

Dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila, guru penggerak memegang peranan yang sangat penting. Dengan berbekal nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid, seorang guru penggerak diharapkan bisa menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru, mewujudkan kepemimpinan murid.

Dalam memimpin pembelajaran, seorang guru penggerak hendaknya melakukan praktik pembelajaran yang berpihak pada murid, yaitu:

  1. Pembelajaran yang interaktif dengan melibatkan guru, peserta didik, masyarakat, lingkungan alam, dan sumber/ media lainnya.
  2. Pembelajaran secara jejaring, yakni menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi serta diperoleh melalui internet.
  3. Pembelajaran berbasis multimedia.
  4. Pembelajaran kritis melalui pembelajaran berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skill) serta pembelajaran aktif yang memungkinkan siswa aktif mencari melalui pendekatan saintifik.
  5. Pembelajaran dengan pola belajar kelompok (berbasis tim).
  6. Mengembangkan pembelajaran dalam upaya pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap peserta didik.
  7. Pembelajaran yang bisa melibatkan banyak disiplin ilmu (multidisciplines).

Komunitas praktik seperti MGMP juga menempati posisi yang sangat strategis dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila. Oleh karena itu, kedepannya guru penggerak juga hendaknya bisa menggerakkan MGMP untuk berkontribusi aktif dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila. Melalui MGMP bisa terjalin kerjasama secara kolaboratif antar guru mata pelajaran, guru bisa meningkatkan kompetensi melalui pelatihan dan workshop di MGMP, serta saling berbagi praktik yang baik terkait pembelajaran di kelas.

Selain itu, guru penggerak juga hendaknya bisa menjadi mentor bagi guru lain. Dengan demikian, seluruh guru akan maju dan berkembang bersama. Guru penggerak juga hendaknya menjalin kerjasama dengan guru lain, kepala sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat sekitar dalam mencapai profil pelajar Pancasila. Serta membantu murid untuk mandiri dalam belajar, memunculkan motivasi untuk belajar, dan mendidik karakter murid di sekolah.


Share:

Komentar Terbaru

Translate

Followers

Guru Itung. Powered by Blogger.

Contact Form

Name

Email *

Message *