Kunjungi Channel YouTube kami di "Guru Itung"

Halaman

Sunday, June 13, 2021

Catatan Akhir Pekan Guru Penggerak Part 7: Implementasi Inkuiri Aspiratif

Oleh: Jamaluddin Tahuddin 

Setelah melalui 3 pembelajaran sebelumnya, kami membuat refleksi individu 4P atas proses kolaborasi yang telah kami lakukan bersama anggota kelompok yang lain di Pembelajaran 3 dalam menyelesaikan tugas pembuatan pemetaan kekuatan dari setiap aset yang dimiliki. Dengan menggunakan poin-poin panduan (4P) yang disajikan di setiap halaman, kami berusaha menyusun refleksi secara individu. Adapun poin-poin panduan (4P) tersebut adalah sebagai berikut:

1)    Peristiwa: Peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi dalam diskusi?

2)    Perasaan: Perasaan apa yang muncul saat proses pembelajaran?

3)    Pembelajaran: Pembelajaran apa saja yang diperoleh melalui peta kekuatan?

4)    Perubahan: Jika saya ingin membuat perubahan dengan konsep inkuiri apresiatif;

a.    Apa saja yang perlu saya pelajari lebih lanjut?

b.    Apa saja strategi yang dilakukan untuk melaksanakan perubahan?

Dari pertanyaan pada poin-poin panduan di atas, saya mencoba merefleksikan kembali proses pembelajaran yang telah dilalui dan mengambil pembelajaran dari proses kolaborasi. Dimana pada pembelajaran sebelumnya, kami melakukan diskusi terkait pemetaan kekuatan yang dimiliki sekolah masing-masing sebagai pendukung terwujudnya visi guru Penggerak. Dalam diskusi tersebut membahas tentang pemetaan kekuatan yang mendukung terwujudnya visi guru Penggerak. Diskusi ini diikuti oleh 2 kelompok yang terdiri dari masing-masing 4 orang anggota. Masing-masing kelompok mempresentasikan aset yang dimiliki oleh sekolah tempat anggotanya mengajar yang bisa menjadi kekuatan dalam mewujudkan visi mereka sebagai guru penggerak. Fasilitator memandu di awal dan akhir diskusi, sementara jalannya diskusi pada saat presentasi oleh masing-masing kelompok dipandu oleh moderator yang ditunjuk oleh anggota dari masing-masing kelompok penyaji. Kemudian masing-masing kelompok menunjuk 1 orang penyaji yang mempresentasikan hasil diskusi mereka, sementara anggota kelompok lain menanggapi.

Pada saat proses pembelajaran, saya merasa lega karena kekurangan yang dimiliki oleh sekolah saya ternyata bisa menjadi kekuatan yang bisa mendukung terwujudnya visi saya selaku guru penggerak. Selain itu, saya juga merasa bahwa selama ini saya kurang bijak jika ingin melakukan sebuah perubahan baik pada diri sendiri maupun di sekolah. Selama ini saya lebih banyak memetakan kekurangan saja tanpa memperhatikan kelebihan yang dimiliki. Sehingga dengan mengetahui manajemen Inkuiri Apresiatif, saya merasa senang karena dengan manajemen ini saya bisa mengetahui hal-hal positif yang bisa dilakukan dengan menggunakan potensi positif yang dimiliki.

Pembelajaran yang diperoleh melalui peta kekuatan adalah sebagai berikut:

  • Kita akan senantiasa berpikiran positif dalam menyikapi setiap masalah terutama dalam merencanakan sebuah perubahan.
  • Dengan memetakan kekuatan, kita bisa membuat perencanaan yang lebih matang karena disesuaikan dengan kekuatan yang dimiliki.
  • Dengan adanya peta kekuatan, kita bisa mengetahui langkah yang tepat dalam melaksanakan perubahan sekaligus bisa mengetahui dengan siapa saja kita bisa bekerjasama mewujudkan visi kita.

Oleh karena itu, jika saya ingin membuat perubahan dengan konsep inkuiri apresiatif, maka saya akan mempelajari bentuk implementasi model BAGJA dalam manajemen perubahan yang mengadopsi konsep inkuiri apresiatif dalam pelaksanaannya. Adapun strategi yang akan saya lakukan untuk melaksanakan perubahan adalah dengan menerapkan model BAGJA seperti berikut:

  • Memulai dengan membuat daftar pertanyaan terkait perubahan yang akan dilakukan
  • Mengambil pelajaran dari praktik baik yang pernah dilakukan orang lain.
  • Membuat gambaran dari apa yang diimpikan termasuk di dalamnya gambaran keadaan setelah impian itu tercapai.
  • Membuat perencanaan dengan membuat capaian yang realistis dan target capaian berikutnya secara berkala, membuat time schedule, serta papan pengumuman untuk mengingatkan program yang akan dilaksanakan.
  • Menentukan orang-orang atau pihak yang akan dilibatkan kemudian menjalin komunikasi yang baik dengan mereka, serta membuat alur pelaksanaan dan SOP.

Sebagai latihan, pada kegiatan demonstrasi kontekstual kami berlatih menerapkan Inkuiri Apresiatif untuk mengidentifikasi potensi murid dan membuat strategi untuk menumbuhkannya. Selain itu, kami juga berlatih memberikan umpan balik secara terstruktur terhadap pekerjaan CGP yang lain. Pada bagian ini, kami ditantang untuk menjalankan model manajemen perubahan Inkuiri Apresiatif BAGJA secara nyata. Namun sebelumnya, kami menyimak terlebih dahulu paparan Jon Townsin seorang Psikolog Organisasi yang menjelaskan Inkuiri Aspiratif dalam video. Dari video tersebut diketahui bahwa menurut Townsin, Inkuiri Aspiratif sebagai filosofi dan proses untuk memanfaatkan kekuatan dan pengalaman semua orang yang berada dalam suatu sistem untuk mewujudkan yang diinginkan. Inkuiri apresiatif dapat menyuntikkan energi, harapan dan optimisme ketika kebutuhan untuk perubahan telah teridentifikasi. Salah satu contoh kebutuhan untuk perubahan adalah bagaimana merekomendasikan strategi pengenalan kekuatan dan potensi murid. Ini disebabkan karena selama ini perhatian guru lebih banyak tertuju pada murid yang secara akademik berprestasi atau malah lebih memfokuskan perhatian pada murid ‘bermasalah’ atau murid yang mengalami kesulitan untuk dididik. Namun, seringkali lupa bahwa mayoritas murid yang dimiliki adalah murid-murid yang tampak biasa saja. Murid-murid ini memiliki kemungkinan untuk kita abaikan karena tidak ada hal menonjol yang mereka miliki. Namun, perlu ada perubahan dalam memandang mereka dan mendidik mereka.

Oleh karena itu, kami diminta membuat rancangan tindakan perubahan berdasarkan tahapan B-A-G-J-A untuk mulai mengubah arah didikan dengan lebih adil dan berpihak pada murid, khususnya pada murid yang selama ini jarang diperhatikan. Kami diminta menemukan potensi dan kekuatan yang mereka miliki serta hal baru apa yang dapat dilakukan untuk menggali potensi mereka. Untuk itu saya mencoba menjalankan B-A-G-J-A tahap demi tahap dan berhasil merumuskan pertanyaan serta tindakan yang perlu dilakukan untuk mengenal kekuatan dan potensi murid. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

PRAKARSA

PERUBAHAN

Strategi Pengenalan Kekuatan dan Potensi Murid

TAHAPAN

Pertanyaan

Daftar tindakan yang perlu dilakukan untuk menjawab pertanyaan

B-uat pertanyaan (Define)

·     Hal baik apa yang dapat ditemukan dari murid biasa dalam kegiatan belajar?

·     Apa yang menarik dari respon, aktivitas, dan hasil belajar murid biasa?

·     Mengamati aktivitas murid biasa baik pada saat belajar di kelas maupun di luar kelas.

·    Memperhatikan hasil belajar murid biasa.

A-mbil pelajaran (Discover)

·     Siapakah murid biasa yang pernah berprestasi?

·     Bagaimana cara dia mengatur waktu belajarnya?

·     Apa saja yang dia lakukan agar bisa berprestasi?

·     Hal baik apa yang telah aku lakukan selama ini yang mendukung usahanya untuk berprestasi?

·     Kemampuan apa yang saya miliki yang dapat membantunya berprestasi?

·    Mencari profil murid biasa yang pernah berprestasi

·    Mencari tahu dan mencatat bagaimana dia mengatur waktu belajarnya dan kegiatannya.

G-ali mimpi (Dream)

·     Apakah kebiasaan-kebiasaan baru yang saya lakukan tetap dilakukan setelah murid berprestasi?

·     Bagaimana perasaan saya jika berhasil menjadikan murid biasa berprestasi?

·     Apa saja hal-hal baru yang bisa kulakukan setelah berhasil menjadikan murid biasa berprestasi?

·     Hal-hal apa yang mendukung murid biasa bisa berprestasi?

·     Membuat gambar diri dengan murid biasa yang berprestasi.

·     Memajangnya di kamar dan mengingatnya selama saya melakukan usaha-usaha selanjutnya.

J-abarkan rencana (Design)

·     Berapa lama target untuk menjadikan murid biasa berprestasi?

·     Apa tindakan-tindakan yang bisa mendukung murid biasa berprestasi?

·     Bagaimana mengukur kemajuan dan menentukan langkah selanjutnya

·     Bagaimana cara agar murid biasa saling menyemangati untuk bisa berprestasi?

·     Apa langkah paling sederhana/ langkah pertama yang bisa dilakukan?

·    Membuat capaian yang realistis untuk setiap minggunya

·    Membuat catatan besar target yang akan dicapai per minggu dan memajangnya di kaca lemari

·    Membuat time schedule

·    Memasang papan pengumuman untuk mengingatkan program yang akan dilaksanakan.

·    Meminta istri dan teman sejawat untuk mengingatkan program yang akan dilaksanakan.

A-tur eksekusi (Deliver)

·     Siapa saja yang akan saya libatkan dalam mewujudkan rencana ini? Berperan sebagai apa saja?

·     Kapan usaha menggali potensi murid biasa akan mulai dilakukan?

·     Siapa yang bisa mengarahkan dan memantau kegiatan yang saya lakukan?

·     Bagaimana pencatatan kemajuan dari kegiatan yang saya lakukan?

·     Siapa yang akan menampung curhatan tentang kesulitan-kesulitan menggali potensi murid biasa?

·    Mengajak guru lain yang memiliki keinginan yang sama

·    Aktif mengikuti kegiatan MGMP

·    Lebih sering berinteraksi dengan murid biasa

·    Menjalin komunikasi dengan orang tua murid terkait kegiatan anak di rumah.

Setelah mencoba menerapkan pendekatan Inkuiri Aspiratif melalui tahapan BAGJA, kegiatan selanjutnya adalah elaborasi pemahaman yang dilakukan secara tatap maya selama 2 JP Bersama instruktur Bapak Robertus Saliman. Dalam pemaparannya, selain mempertajam kembali mengenai pemahaman terhadap filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara dan paradigma perubahan Inkuiri Aspiratif melalui manajemen BAGJA, Pak Robert juga menjelaskan bahwa ada tiga peran yang bisa dimainkan dalam melakukan perubahan. Peran itu adalah perhatian, kepedulian, dan pengaruh. Sebagai pendidik, peran yang paling memungkinkan bagi seorang guru Penggerak dalam melakukan perubahan adalah dengan menggunakan pengaruhnya. Selain itu, beliau juga berbagi praktik baik penerapan wiraga wiraga-wirama wirama di Sanggar Anak Alam Yogyakarta sebagai implementasi dari filosofi Pendidikan KHD. Pendidikan di Sanggar Anak Alam Yogyakarta mengikuti kodrat tumbuh kembang anak berdasarkan filosofi Pendidikan KHD.

Dari kegiatan elaborasi pemahaman tersebut, saya bisa menghubungkan visi CGP dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara serta pendekatan inkuiri apresiatif. Dalam memainkan peran sebagai pendidik dan guru penggerak, seorang guru penggerak tentunya memiliki impian atau harapan yang ingin digapai di masa yang akan datang. Impian atau harapan itu hendaknya diejawantahkan dalam sebuah visi yang menjadi panduan bagi seorang guru untuk mencapai tujuan. Visi tersebut menjadi panduan bagi guru dalam menentukan strategi pembelajaran. Selain itu, seorang guru juga bisa lebih memahami pentingnya sebuah visi dan visi seperti apa yang dimilikinya. Visi seorang guru hendaknya berpihak pada murid karena sasaran pekerjaannya adalah murid. Keberhasilan seorang guru baru dapat terlihat setelah sang murid tumbuh menjadi orang dewasa dan hidup di tengah masyarakat.

Visi juga membuat diri termotivasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran serta menguatkan kolaborasi di lingkungan sekolah sehingga terjadi upaya perbaikan dan perubahan yang berkesinambungan terutama perubahan budaya sekolah. Perlu pelibatan semua warga sekolah karena budaya sekolah terkait dengan sikap, perbuatan, dan segala bentuk kegiatan yang dilakukan warga sekolah. Untuk dapat mewujudkan visi sekolah dan melakukan proses perubahan, maka perlu sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan ini dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Jika diibaratkan seperti seorang pelari yang memiliki tujuan mencapai garis “finish”, maka ia butuh peralatan yang mendukung selama berlatih seperti alat olahraga. Salah satu pendekatan atau paradigma yang bisa digunakan adalah pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA). IA dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Konsep IA ini pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider (Noble & McGrath, 2016).

Cooperrider menyatakan bahwa pendekatan IA dapat membantu membebaskan potensi inovatif dan kreativitas, serta menyatukan orang dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh proses manajemen perubahan yang biasa. Manajemen perubahan yang biasa dilakukan lebih menitikberatkan pada masalah apa yang terjadi dan apa yang salah dari proses tersebut untuk diperbaiki. Hal ini berbeda dengan IA yang berusaha fokus pada kekuatan yang dimiliki setiap anggota dan menyatukannya untuk menghasilkan kekuatan tertinggi.

IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dengan demikian, dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan.

Menurut Cooperrider, saat ini kita hidup pada zaman yang membutuhkan mata yang dapat melihat dan mengungkap hal yang benar dan baik. Mata yang mampu membukakan kemungkinan perbaikan dan memberikan penghargaan. Bila organisasi lebih banyak membangun sisi positif yang dimilikinya, maka kekuatan sumber daya manusia dalam organisasi tersebut dipastikan akan meningkat dan kemudian organisasi akan berkembang secara berkelanjutan.

Di sekolah, pendekatan IA dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa yang telah ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan ke arah lebih baik. Nantinya, kelemahan, kekurangan, dan ketiadaan menjadi tidak relevan. Berpijak dari hal positif yang telah ada, sekolah kemudian menyelaraskan kekuatan tersebut dengan visi sekolah dan visi setiap warga sekolah.

 

 

 

 

Share:

0 comments:

Post a Comment

Komentar Terbaru

Translate

Followers

Guru Itung. Powered by Blogger.

Contact Form

Name

Email *

Message *