Kunjungi Channel YouTube kami di "Guru Itung"

Halaman

Friday, June 11, 2021

Nilai dan Peran Guru Penggerak dalam Kaitannya dengan Filosofi Ki Hajar Dewantara untuk Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila melalui Pendekatan Inkuiri Aspiratif dengan manajemen BAGJA

Oleh: Jamaluddin Tahuddin (SMPN 28 Makassar)

Seorang guru penggerak hendaknya memiliki nilai-nilai guru penggerak dalam jiwanya. Nilai-nilai itu adalah mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Kelima nilai tersebut penting dimiliki oleh setiap guru penggerak karena jika guru penggerak memiliki nilai mandiri, maka ia akan lebih leluasa berkembang karena tidak perlu lagi bergantung pada orang lain. Reflektif membantu dirinya memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kelebihan yang dimiliki sehingga ia akan selalu tampil sebagai guru yang ideal. Dengan nilai kolaborasi, pekerjaan guru penggerak, menjadi lebih mudah dan ringan karena semuanya dilakukan secara kolaboratif dengan semua pihak. Inovatif mendorong terciptanya pembaruan sehingga guru akan senantiasa melahirkan ide dan gagasan yang baru dalam mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Segala tindakan dan kebijakan yang berpihak pada murid tentunya akan membuat murid senang dan termotivasi belajar sehingga akan mendorong terwujudnya profil pelajar Pancasila. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi kebiasaan dalam berperilaku sehingga melekat menjadi karakter dari setiap guru penggerak. Nilai guru penggerak sangat mempengaruhi guru penggerak dalam memainkan perannya.

Adapun peran guru penggerak adalah sebagai berikut:

  1. Menjadi pemimpin pembelajaran melalui praktik pembelajaran yang berpihak pada murid. Pembelajaran dengan pola belajar kelompok (berbasis tim) dan mengembangkan pembelajaran dalam upaya pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap peserta didik. Pembelajaran berbasis multimedia dengan media audio visual. Pembelajaran secara jejaring, yakni menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi serta diperoleh melalui internet. Pembelajaran yang interaktif dengan melibatkan guru, peserta didik, masyarakat, lingkungan alam, dan sumber/ media lainnya.
  2. Menggerakkan komunitas praktisi seperti MGMP untuk berkontribusi aktif dalam mewujudkan merdeka belajar. Melalui MGMP bisa terjalin kerjasama secara kolaboratif antar guru mata pelajaran, guru bisa meningkatkan kompetensi melalui pelatihan dan workshop di MGMP, serta saling berbagi praktik yang baik terkait pembelajaran di kelas.
  3. Guru penggerak menjadi coach bagi guru lain, misalnya dengan membimbing guru lain dalam pengolahan nilai melalui excel, pembuatan kelas online, pembuatan media pembelajaran berbasis multimedia, dan sebagainya.
  4. Menjalin kerjasama dengan guru lain, kepala sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat sekitar dalam mencapai profil pelajar Pancasila.
  5. Membantu murid untuk mandiri dalam belajar, memunculkan motivasi untuk belajar, dan mendidik karakter murid di sekolah.

Nilai dan peran guru penggerak selaras dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid yang menjiwai guru penggerak dalam memainkan perannya tentunya akan menghadirkan guru yang sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Guru yang memahami bahwa jika mereka menanam padi, tidak akan mungkin tumbuh jagung begitupun sebaliknya. Dengan kata lain, mereka akan memahami bahwa pendidikan sangat dipengaruhi oleh perlakuan mereka terhadap murid. Segala tindakan dan kebijakan guru penggerak akan senantiasa menghamba pada anak. Mereka akan memperlakukan anak sesuai kodratnya, baik itu kodrat alam maupun zamannya dan tentu saja kodrat anak adalah bermain. Dengan demikian, seorang guru penggerak tentunya akan senantiasa mendidik anak agar menjadi manusia yang baik lakunya, selaras budi dan pekertinya.

Dalam memainkan peran sebagai pendidik dan guru penggerak, seorang guru penggerak tentunya memiliki impian atau harapan yang ingin digapai di masa yang akan datang. Impian atau harapan itu hendaknya diejawantahkan dalam sebuah visi yang menjadi panduan bagi seorang guru untuk mencapai tujuan. Visi tersebut menjadi panduan bagi guru dalam menentukan strategi pembelajaran. Selain itu, seorang guru juga bisa lebih memahami pentingnya sebuah visi dan visi seperti apa yang dimilikinya. Visi seorang guru hendaknya berpihak pada murid karena sasaran pekerjaannya adalah murid. Keberhasilan seorang guru baru dapat terlihat setelah sang murid tumbuh menjadi orang dewasa dan hidup di tengah masyarakat.

Visi juga membuat diri termotivasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran serta menguatkan kolaborasi di lingkungan sekolah sehingga terjadi upaya perbaikan dan perubahan yang berkesinambungan terutama perubahan budaya sekolah. Perlu pelibatan semua warga sekolah karena budaya sekolah terkait dengan sikap, perbuatan, dan segala bentuk kegiatan yang dilakukan warga sekolah. Untuk dapat mewujudkan visi sekolah dan melakukan proses perubahan, maka perlu sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan ini dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Jika diibaratkan seperti seorang pelari yang memiliki tujuan mencapai garis “finish”, maka ia butuh peralatan yang mendukung selama berlatih seperti alat olahraga. Salah satu pendekatan atau paradigma yang bisa digunakan adalah pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA). IA dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Konsep IA ini pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider (Noble & McGrath, 2016).

Cooperrider menyatakan bahwa pendekatan IA dapat membantu membebaskan potensi inovatif dan kreativitas, serta menyatukan orang dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh proses manajemen perubahan yang biasa. Manajemen perubahan yang biasa dilakukan lebih menitikberatkan pada masalah apa yang terjadi dan apa yang salah dari proses tersebut untuk diperbaiki. Hal ini berbeda dengan IA yang berusaha fokus pada kekuatan yang dimiliki setiap anggota dan menyatukannya untuk menghasilkan kekuatan tertinggi.

IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dengan demikian, dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan.

Menurut Cooperrider, saat ini kita hidup pada zaman yang membutuhkan mata yang dapat melihat dan mengungkap hal yang benar dan baik. Mata yang mampu membukakan kemungkinan perbaikan dan memberikan penghargaan. Bila organisasi lebih banyak membangun sisi positif yang dimilikinya, maka kekuatan sumber daya manusia dalam organisasi tersebut dipastikan akan meningkat dan kemudian organisasi akan berkembang secara berkelanjutan.

Di sekolah, pendekatan IA dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa yang telah ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan ke arah lebih baik. Nantinya, kelemahan, kekurangan, dan ketiadaan menjadi tidak relevan. Berpijak dari hal positif yang telah ada, sekolah kemudian menyelaraskan kekuatan tersebut dengan visi sekolah dan visi setiap warga sekolah.

Salah satu manajemen perubahan yang menerapkan pendekatan IA adalah BAGJA. BAGJA merupakan singkatan dari Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, Atur Eksekusi. Ini merupakan implementasi dari Define, Discover, Dream, Design, Deliver pada pendekatan IA.

Visi saya sebagai pendidik dan guru penggerak adalah sebagai berikut:

Oleh karena itu, saya mesti memetakan kekuatan dan potensi positif yang dimiliki oleh sekolah dalam mendukung terwujudnya visi tersebut. Selanjutnya membuat rancangan tindakan perubahan berdasarkan tahapan B-A-G-J-A sebagai berikut:

PRAKARSA

PERUBAHAN

Strategi Pengenalan Kekuatan dan Potensi Murid

TAHAPAN

Pertanyaan

Daftar tindakan yang perlu dilakukan untuk menjawab pertanyaan

B-uat pertanyaan (Define)

·     Hal baik apa yang dapat ditemukan dari murid biasa dalam kegiatan belajar?

·     Apa yang menarik dari respon, aktivitas, dan hasil belajar murid biasa?

·     Mengamati aktivitas murid biasa baik pada saat belajar di kelas maupun di luar kelas.

·    Memperhatikan hasil belajar murid biasa.

A-mbil pelajaran (Discover)

·     Siapakah murid biasa yang pernah berprestasi?

·     Bagaimana cara dia mengatur waktu belajarnya?

·     Apa saja yang dia lakukan agar bisa berprestasi?

·     Hal baik apa yang telah aku lakukan selama ini yang mendukung usahanya untuk berprestasi?

·     Kemampuan apa yang saya miliki yang dapat membantunya berprestasi?

·    Mencari profil murid biasa yang pernah berprestasi

·    Mencari tahu dan mencatat bagaimana dia mengatur waktu belajarnya dan kegiatannya.

G-ali mimpi (Dream)

·     Apakah kebiasaan-kebiasaan baru yang saya lakukan tetap dilakukan setelah murid berprestasi?

·     Bagaimana perasaan saya jika berhasil menjadikan murid biasa berprestasi?

·     Apa saja hal-hal baru yang bisa kulakukan setelah berhasil menjadikan murid biasa berprestasi?

·     Hal-hal apa yang mendukung murid biasa bisa berprestasi?

·     Membuat gambar diri dengan murid biasa yang berprestasi.

·     Memajangnya di kamar dan mengingatnya selama saya melakukan usaha-usaha selanjutnya.

J-abarkan rencana (Design)

·     Berapa lama target untuk menjadikan murid biasa berprestasi?

·     Apa tindakan-tindakan yang bisa mendukung murid biasa berprestasi?

·     Bagaimana mengukur kemajuan dan menentukan langkah selanjutnya

·     Bagaimana cara agar murid biasa saling menyemangati untuk bisa berprestasi?

·     Apa langkah paling sederhana/ langkah pertama yang bisa dilakukan?

·    Membuat capaian yang realistis untuk setiap minggunya

·    Membuat catatan besar target yang akan dicapai per minggu dan memajangnya di kaca lemari

·    Membuat time schedule

·    Memasang papan pengumuman untuk mengingatkan program yang akan dilaksanakan.

·    Meminta istri dan teman sejawat untuk mengingatkan program yang akan dilaksanakan.

A-tur eksekusi (Deliver)

·     Siapa saja yang akan saya libatkan dalam mewujudkan rencana ini? Berperan sebagai apa saja?

·     Kapan usaha menggali potensi murid biasa akan mulai dilakukan?

·     Siapa yang bisa mengarahkan dan memantau kegiatan yang saya lakukan?

·     Bagaimana pencatatan kemajuan dari kegiatan yang saya lakukan?

·     Siapa yang akan menampung curhatan tentang kesulitan-kesulitan menggali potensi murid biasa?

·    Mengajak guru lain yang memiliki keinginan yang sama

·    Aktif mengikuti kegiatan MGMP

·    Lebih sering berinteraksi dengan murid biasa

·    Menjalin komunikasi dengan orang tua murid terkait kegiatan anak di rumah.

 

 

 

Share:

0 comments:

Post a Comment

Komentar Terbaru

Translate

Followers

Guru Itung. Powered by Blogger.

Contact Form

Name

Email *

Message *