Kunjungi Channel YouTube kami di "Guru Itung"

Halaman

Saturday, August 28, 2021

Catatan Akhir Pekan Guru Penggerak Part 16: Praktik Coaching Model TIRTA

Oleh: Jamaluddin Tahuddin

Pada tahapan demonstrasi kontekstual, guru melakukan praktik coaching di sekolah tempat mengajar dengan menggunakan model TIRTA. Dalam kegiatan ini, guru memilih murid sebagai coachee. Guru memanggil seorang murid yang bernama Nadin ke perpustakaan karena ia melihat Nadin banyak melamun dan kurang semangat dan melalui tahapan Tujuan pada model TIRTA, Nadin membutuhkan solusi sekaligus ingin mengetahui penyebab dari masalah yang sedang dihadapinya. Setelah melakukan identifikasi melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif dan efektif, ternyata terungkap bahwa Nadin banyak melamun dan kurang semangat disebabkan ia merasa tidak nyaman belajar di hampir semua mata pelajaran. Ia merasa tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik karena susah memahami isi pelajaran itu. Ia sudah menyimak dengan sungguh-sungguh penjelasan dari guru, tapi ia tidak mengingatnya pada saat ulangan sehingga hasil ulangannya tidak pernah tuntas. Sekalipun demikian, ternyata masih ada pelajaran yang mudah ia pahami yakni mata pelajaran Pendidikan jasmani dan seni budaya. Alasannya karena kedua mata pelajaran itu lebih banyak praktek sehingga tidak perlu banyak membaca. Sementara mata pelajaran yang lain mesti banyak membaca dan menghafal rumus terutama matematika. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ia merasa tidak nyaman belajar karena mata pelajaran yang lain kurang prakteknya. Tapi, hal yang menarik dari hasil identifikasi adalah bahwa ternyata Nadin memahami bahwa dirinya bisa menghafal lagu sekalipun liriknya panjang dan ia pun berpikir akan membuat rangkuman pelajarannya berirama seperti lagu. Setelah guru meyakinkan bahwa langkah itu bagus dan menjelaskan bahwa metode itu disebut metode Rhyming. Nadin pun merasa semakin mantap untuk melakukannya. 

Pada tahap Rencana aksi, guru juga menanyakan hal lain yang akan dilakukan Nadin selain membuat rangkuman dengan metode Rhyming. Selain membuat rangkuman dengan menggunakan metode Rhyming, Nadin juga akan membuat kelompok belajar, belajar di tempat yang nyaman dan makan makanan bergizi. Setelah tahapan rencana aksi yang akan dilakukan oleh Nadin dirasa sudah mantap, guru lalu menanyakan komitmen apa yang akan dilakukan Nadin untuk menjalankan rencananya. Dalam hal ini, Nadin berkomitmen akan mencatat dan membuat rangkuman pelajaran dengan menggunakan metode Rhyming dan membuat kelompok belajar. Ia akan mengajak Alya untuk belajar bersama agar bisa membantunya mereview pelajaran karena menurutnya Alya adalah anak yang pintar. Gurupun mengatakan bahwa itu adalah ide yang baik sekali dan meyakinkan Nadin bahwa ia pasti bisa melakukannya dengan baik.

Setelah mempelajari modul Coaching ini, dapat dipahami bahwa Coaching merupakan salah satu proses menuntun belajar murid untuk mencapai kekuatan kodratnya. Sebagai seorang pamong, guru dapat memberikan tuntunan melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif dan efektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya. Proses Coaching penting untuk mengaktivasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dapat membuat murid melakukan metakognisi. Pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga membuat murid lebih berpikir secara kritis dan mendalam sehingga murid dapat menunjukkan potensinya. Perbedaan antara coaching, mentoring, dan konseling dapat ditinjau dari aspek tujuan, hubungan, dan keahlian. 

Ditinjau dari aspek tujuan, coaching mengarahkan coachee untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dan memaksimalkan potensinya. Mentoring membagikan  pengalamannya untuk membantu mentee mengembangkan dirinya. Konseling membantu konseli memecahkan masalahnya. 

Ditinjau dari aspek hubungan, coaching merupakan kemitraan yang setara dan coachee sendiri yang mengambil keputusan. Coach hanya mengarahkan saja, coachee lah yang membuat keputusan sendiri. Mentoring merupakan hubungan antara seseorang yang berpengalaman dan yang kurang berpengalaman. Mentor langsung memberikan tips bagaimana menyelesaikan suatu masalah atau mencapai sesuatu. Konseling merupakan hubungan antara seorang ahli dan seseorang yang membutuhkan bantuannya. Konselor bisa saja langsung memberi solusi. Ditinjau dari aspek keahlian, coach bisa saja seseorang yang ahli, guru, teman  atau rekan kerja. Mentor adalah seseorang yang berpengalaman dalam bidangnya. Konselor adalah seseorang yang ahli  dalam bidangnya. 

Pendidik diharapkan berperan sebagai penuntun bagi murid, maka kita bersama perlu memahami proses pendekatan komunikasi  Coaching ini agar selaras dengan proses among yang  kita hidupi dalam  keseharian sebagai  pendidik. Pendampingan yang  kita lakukan bagi  anak-anak didik kita, seyogyanya memberikan arti dalam proses tumbuh kembang sehingga para coachee mengalami proses yang bermakna dari setiap langkah TIRTA yang dijalani dan potensi mereka tergali optimal. ARTI sebagai paradigma pendampingan Coaching sistem among merupakan akronim dari Apresiasi, Rencana, Tulus, dan Inkuiri. Dalam proses coaching, seorang coach mempasisikan coachee sebagai mitra dan menghormati setiap apa yang dikomunikasikan, memberikan tanggapan positif dari apa yang disampaikan. Apresiasi merupakan nilai yang terkandung dalam komunikasi yang memberdayakan. Proses coaching dilakukan sebagai pendampingan bagi coacbee dalam menemukan solusi dan  menggali potensi yang ada dalam diri, yang kemudian dituangkan dalam sebuah tindakan sebagai bentuk tanggung jawab (TlRTA). Pada saat sesi coaching, seorang coach hendaknya Tulus memberikan waktu  dan diri seutuhnya dalam  melakukan  proses coaching. Dengan sebuah niat dan kesungguhan ingin membantu coachee dalam pengembangan potensi mereka. Dalam proses coaching, seorang coach menuntun agar coachee dapat menggali, memetakan situasinya sehingga menghasilkan pemikiran atau ide-ide baru atas situasi yang sedang dihadapi. Proses coaching menekankan pada proses inkuiri yaitu kekuatan pertanyaan atau proses bertanya yang muncul dalam dialog saat   coaching. Pertanyaan efektif mengaktifkan kemampuan berpikir reflektif para murid dan keterampilan bertanya mereka dalam pencarian makna dan jawaban atas situasi atau fenomena yang mereka hadapi dan jalani.

Dalam usaha membangun keselarasan berkomunikasi, coach juga perlu belajar menyamakan posisi diri pada saat coaching berlangsung. Beberapa tips singkat yang dapat seorang coach lakukan adalah menyamakan kata kunci, menyamakan bahasa tubuh, menyelaraskan emosi. Setelah mempelajari bagian ini, saya memahami bahwa makna dari membangun sebuah komunikasi asertif dengan murid adalah membangun keselarasan dalam berkomunikasi sehingga murid merasa aman dan nyaman ketika berkomunikasi dengan guru. Dampak yang bisa saya rasakan adalah saya bisa mengetahui tips membangun komunikasi asertif dengan murid, yaitu menyamakan kata kunci, menyamakan bahasa tubuh, dan menyelaraskan emosi. Dengan demikian saya merasa terobsesi untuk mencoba ketiga tips ini ketika berkomunikasi dengan murid. 

Setelah melihat keterkaitan antara berbagai materi, saya memiliki perspektif yang lebih luas yang dapat memperkaya saya dalam membuat perubahan di kelas atau sekolah. Pada tahapan pembelajaran setelah ini, saya melakukan sebuah tindakan sebagai implementasi dari pemahaman yang sudah didapat. Sebagai persiapan melakukan Aksi Nyata tersebut, saya membuat rancangan sederhana dengan mengisi bagan yang ada di LMS. Rancangan aksi nyata ini dilatarbelakangi oleh pentingnya melakukan coaching di sekolah sebagai upaya menuntun rekan sejawat untuk mengatasi masalah yang dihadapi dan masih banyaknya rekan sejawat yang masih tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Aksi nyata yang akan dilakukan bertujuan untuk menuntun rekan sejawat untuk mengatasi masalah yang dihadapi dan menjalin hubungan kemitraan yang setara dengan rekan sejawat sendiri yang mengambil keputusan.

Adapun rencana tindakan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Mencari rekan sejawat yang membutuhkan bantuan untuk mengatasi masalahnya.

2. Membuat kesepakatan bertemu untuk membahas masalahnya.

3. Melakukan coaching dengan menggunakan model TIRTA

  • Menanyakan tujuan dan harapan rekan sejawat dari diskusi itu.
  • Melakukan identifikasi terhadap kekuatan, peluang, hambatan, dan solusi dari rekan sejawat terkait masalah yang sedang dihadapinya.
  • Menanyakan rencana aksi yang akan dilakukan oleh rekan sejawat, meliputi rencana, prioritas, strategi, waktu, ukuran keberhasilan, dan cara mengantisipasi hambatan yang akan dihadapi.
  • Menanyakan tanggung jawab yang meliputi komitmen yang akan dilakukan, orang yang akan dilibatkan, dan tindak lanjutnya.

4. Melakukan refleksi terhadap kegiatan coaching yang telah dilakukan.

Tolok ukur keberhasilan aksi nyata ini adalah rekan sejawat bisa membuat keputusan sendiri untuk memecahkan masalahnya dan tidak lagi merasa bergantung pada coach. Dukungan yang dibutuhkan dalam rencana aksi nyata ini adalah keterlibatan rekan sejawat baik guru ataupun staf. Rancangan aksi nyata ini akan dilaksanakan pada saat kunjungan Pendampingan Individu ke-4. Calon Guru Penggerak bersama rekan sejawat yang sudah diminta untuk latihan coaching akan mempraktikkan coaching di depan pendamping. Dalam hal ini rekan sejawat menjadi coachee. Setelah Calon Guru Penggerak bersama rekan sejawat praktik coaching, Calon Guru Penggerak dan rekan sejawatnya akan melakukan refleksinya, baik secara tertulis ataupun lisan.



Share:

0 comments:

Post a Comment

Komentar Terbaru

Translate

Followers

Guru Itung. Powered by Blogger.

Contact Form

Name

Email *

Message *